Jumat, 10 Februari 2012

Manfaat Konten Lokal buatan Indonesia


Secara dasar, teknologi adalah segala hal tentang pembuatan sesuatu yang mampu membantu dan mempercepat sebuah pekerjaan manusia. Sejak jaman dahulu telah bermunculan alat-alat ciptaan manusia dan terus berkembang hingga kini. Bahkan alat-alat itu dapat mengubah semua aspek yang ada di sekitar manusia. Contohnya adalah saat kapak batu dibuat pertama kali oleh manusia. Mereka menggunakan  benda itu untuk keperluan sehari-hari seperti menebang pohon, memotong binatang, berburu, dan saat bentuk yang mereka buat semakin halus (dihaluskan), bahkan kapak ini digunakan untuk upacara ritual jaman dahulu, dilihat dari bentuk kapak yang sangat halus, terbuat dari bahan batu lunak, dan tidak adanya bekas pemakaian.
Sebenarnya di balik penggunaan alat itu ada sebuah hal yang disebut dengan “saving energi” atau sisa energi yang tersimpan. Bayangkan saja seperti ini, bahwa sebuah kapak batu purba memerlukan waktu setengah jam untuk menebang sebuah pohon, lalu lama kelamaan kapak itu berkembang hingga berubah bahan menjadi besi yang semakin tajam. Dan kapak besi itu mampu menebang pohon dalam waktu 5 menit. Dengan demikian akan ada waktu sekitar 25 menit yang tersisa, dan sisa energi manusia inilah yang dapat digunakan untuk hal-hal lain. Ini juga dapat diterapkan di setiap fungsi alat-alat yang berkembang sekarang.
Namun yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana suatu masyarakat (bangsa) mengembangkan teknologi sesuai jati diri mereka. Cintoh lain adalah setiap bangsa mampu membuat komputer beserta software di dalamnya. Dan semua itu akan menjadi sebuah kompetisi setiap bangsa justru dalam penciptaan software yang sesuai dan bertujuan mempercepat suatu pekerjaan secepat-cepatnya.
Dan setiap apa yang dimiliki suatu bangsa/negara, sering juga disebut dengan konten lokal. Dimana karya lokal (asli) buatan bangsa sendiri merupakan suatu kebanggan yang mampu ikut membangun negara sendiri.
•    Kenapa harus mendukung konten lokal?
Dukungan adalah segala yang dilakukan bertujuan untuk membuat hal yang didukung menjadi lebih baik dan ikut merasakan kebanggaan. Konten lokal tidak akan ada apa-apanya tanpa dukungan dari masyarakatnya sendiri. Siapa lagi yang akan dukung konten-konten itu? Padahal itu buatan orang-orang dalam masyarakat mereka sendiri, dan terutama konten lokal yang berkenaan dengan teknologi pastinya memiliki fungsi membantu kinerja seusai harapan.
Sekecil apapun karya konten lokal, itu adalah sebuah inovasi/pembuatan baru dari masyarakat itu sendiri. Dan sebagai masyarakat dari bagian konten itu harusnya merasa bangga dan memanfaatkan secara baik.
•    Salah satu konten lokal yang saat ini dibutuhkan di Indonesia
Website adalah mungkin salah satu yang sedang dibutuhkan oleh negara dan bangsa ini. Khususnya web yang berkenaan dengan kegiatan komunitas-komunitas dalam masyarakat. Web ini harus bertujuan untuk saling mengenal antar masyarakat dan menciptakan persatuan di bangsa mereka sendiri. Isinya bisa bermacam-macam, mulai seperti diskusi sebuah permasalahan yang sedang melanda negara ini, penampilan info-info tentang sejarah-sejarah yang ada di negara ini sehingga mampu menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi, dan berbagai informasi tentang karya-karya anak bangsa yang ada sehingga masyarakat lama-kelamaan akan ikut menggunakan dan mendukung.
Pastinya web ini akan memiliki tampilan yang khas Indonesia. Seperti icon web, layoutnya, hingga informasi yang ada mampu menunjukkan kebolehan masyarakat negara ini.
•    Mengapa memilih Website?
Karena sekarang adalah jaman dimana dunia terasa semakin kecil dan keinginan sekedar melihat belahan dunia yang lain hanya tinggal melihat pada layar komputer anda atau televisi. Website mampu menyediakan segala informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan terbukti bahwa pengaruh informasi yang ada di website mampu membuat seseorang untuk selalu update akan suatu pengetahuan.
Masyarakat akan selalu terbantu akan kehadiran web lokal yang ada di Indonesia. Mereka akan selalu dengan mudah mengupdate berita dan menghemat energi mereka untuk pekerjaan lain karena mendapatkan berita secara cepat dan gampang.
•    Aplikasi sehari-hari
Bisnis online adalah hal yang luar biasa membantu orang-orang dalam bekerja. Mereka tidak perlu lagi harus membawa barang yang akan dijual ke sana ke mari dan hanya tinggal menjualnya via online. Banyak web menyediakan jasa FJB (Forum Jual Beli) dan sekarang sudah mulai banyak yang merupakan buatan Indonesia sendiri. Konten lokal inilah yang harus dimanfaatkan dan didukung. Mengapa tidak? Bahkan menjual pariwisata yang ada di negara ini mampu dilakukan juga di forum-forum itu.
Banyak yang sudah menawarkan pariwisata di daerahnya melalui web wisata lokal. Sehingga masyarakat lokal akan lebih berkembang dalam mengembangkan pariwisata juga secara tidak langsung memajukan SDM yang ada.


Dukungan merupakan hal yang penting seperti yang disebut di atas. Dan dukungan untuk konten lokal yang ada di Indonesia berasal dari XL Axiata (XL Konten Seru). Anda bisa menikmati berbagai konten mulai dari paket sms, games seru, dan semua transaksi yang anda butuhkan ada di sana. Yang pasti anda bisa memanfaatkan segala hal yang ada dalam XL Axiata (XL Konten Seru).
Nikmati segala yang anda butuhkan di kehidupan anda dengan XL Axiata (XL Konten Seru).
Konten-konten itu juga bisa anda masuk lewat SINI (atau klik pada logo XL).


Dunia Ajaib Bernama Dunia Internet



Dunia maya atau dunia internet, adalah hal yang sangat berpengaruh sekarang. Bayangin aja, di dunia ini kamu bisa ngapain aja semaumu (sesuai aturan pastinya). Kamu pengen belajar nyervis HP kamu sendiri tinggal cari aja cara-caranya di internet, mau masak yang enak resepnya juga udah ada di internet, dan bahkan kamu bisa lihat kondisi lalu lintas di jalan-jalan kota lewat video streaming. Lihat, dunia internet merupakah sebuah dunia yang seolah-olah dapat kamu genggam layaknya kotak ajaib yang di dalamnya kamu bisa ambil apapun yang kamu mau dan butuh. Seolah dunia internet itu kecil (dalam genggaman), kamu bahkan bisa menyapa dunia itu dengan tujuan menunjukkan kebolehanmu dan berkata “Hei dunia! Ini aku! Aku HEBAT!”.
Banyak cerita yang bisa aku kasih ke kalian semua bahwa dunia internet itu dunia paling hebat sekarang.
Blog ini adalah salah satu bukti aku benar-benar bisa merasa nyaman ada di dunia internet. Meskipun bikin blog ini iseng-iseng dan pengunjungya juga baru teman-teman dekat, tapi dengan demikian justru aku merasa hebat memiliki blog ini. Karena ini adalah salah satu caraku untuk menampilkan duniaku sendiri lewat catatan keseharian dan gagasan yang ku punyai. Aku baru bikin beberapa cerita lucu, pengalaman lucuku/teman, dan gagasanku tentang sesuatu dalam blog ini, dan itu memang untuk menunjukkan bahwa inilah ceritaku, inilah kata-kata yang ku buat sendiri supaya orang mampu menilai.
Jadi kalian gak usah minder akan segala hal yang dirasa itu adalah bakat kalian.
Misal seperti ini.
Suatu ketika aku lagi makan di kantin bareng teman-temanku kuliah. Kami lagi asyik ngobrolin hobi masing-masing. Ada yang hobi naik sepeda, nulis, fotografi, dan lain-lain. Kadang temanku yang suka nulis atau fotografi bawa karya mereka untuk ditunjukkan ke teman lain. Mereka punya tujuan cari saran dan kritik mengenai karya mereka. Tapi yang sering aku kesal adalah waktu aku bilang “kenapa gak nyoba diikutin di lomba aja?” dan mereka selalu bilang “enggak ah, takut kalah lagian jepretan/tulisanku masih jelek.”
WOI! Bangun! Ini udah 2012. Kamu buang-buang rasa mindermu itu dan atur strategi. Kalian bisa berlatih dan belajar di dunia internet. Anggap aja kalian punya jurus silat, tunjukkin ke orang lain baik yang udah master juga ke teman-temanmu, trus tanyakan apakah kekurangan kalian supaya jurus itu bisa jadi JURUS MAUT.
Tunjukkin aja apa yang kalian punya di dunia internet, kalian kasih lihat ke orang-orang, tanya ke mereka apa yang kurang, jika sudah banyak belajar trus coba aja ikut kompetisi. Jalan memang jarang mulus saat pertama, tapi paling tidak kalian tahu bahwa jangan sampai jatuh ke lubang jalan yang sama. Para penilai yang pernah memberi masukan pada kalian adalah para penonton yang bersorak saat kamu berlari di jalan berlubang, mereka akan selalu bilang “awas!” kalau emang ada lubang atau halangan dan bilang “cepat!” kalau memang jalan di depanmu mulus dan mereka yakin kamu sanggup.
Jadi dari banyak ceritaku di atas, aku cuma mau pesan bahwa terciptanya dunia baru, dunia internet merupakan bantuan besar buat kamu untuk “nampang” atau orang bilang “eksis” di hadapan banyak orang dan yang pasti prestasimu adalah prestasi bertanggungjawab. Di dunia internet menurutku eksis itu perlu, kamu butuh itu di sana. Tunjukkin bakatmu, minta saran, lihat penilaian mereka, belajar, dan bertarunglah.
Sekian dari aku, pesanku itu saja. Tetap berkarya, jangan lupa eksis supaya orang mau melihatmu dan mengenalmu.
Internet untuk rakyat adalah selera semua.

Cuci tangan sampai bersih, cukup sekian dan terima kasih.


Kamis, 26 Januari 2012

Perjalanan ke Dieng:MENEMBUS HUJAN BADAI

Hai,jumpa lagi di postingan baruku di Blog ini.
Huft, masih pegel nih rasanya punggung ama tanganku. Mau tau kenapa?
Soalnya kemarin (Rabu 25 Januari 2012) aku ama teman-teman KKN ke Dieng untuk ngurus surat. Lumayan jauh sih, dan perjalanan terasa begitu dingiiiiiiin dan berangin.
Ehem, ceritanya gini. Kan kelompok KKNku butuh surat persetujuan dari Kades dan Camat yang akan kami KKNin(kata yang aneh bukan?). Nah, akhirnya perwakilan dari kami berangkat deh ke Dieng, tepatnya ke Karang Tengah.
Pagi-pagi aku udah siap-siap nih, mandi, masak, sarapan, manasin motor, berangkat deh (yang pasti udah berpakaian). Janjiannya sih jam 8 pagi di Lembah UGM. Sampai di sana udah ada si Rayfan nagkring di motor Suzuki Satrianya, nungguin.
Waktu udah sampai dia langsung bilang “yang ke Dieng cuma kita berempat Nes.”
“Oke.” Ya maklum, ini hari libur kami jadi teman-teman yang lain pada pulang kampung. Dan aku? Rumah di Jogja, ya udah di rumah aja deh.
Trus jam setengah 9 si Desti datang. Langsung deh tancap ke Dieng. Tunggu... Baru 3 orang. Aku, Rayfan, dan Desti. Kurang 1! Ya, kita sambil perjalanan ke Dieng sekalian jemput si Septi di Magelang, karena rumahnya sana.
Sebelum menuju ke Magelang motor kami kelaparan, ya udah di kasih makan (bensin) dulu deh (mulai dari nol ya?!). Setelah FULL kami pun langsung capsus(ciing) jemput si Septi di Magelang.
Setengah jam kemudian sampai di tempat Septi dan akhirnya, BERANGKAAAAT. Ke Dieng via jalur Purworejo.
Haha..jalannya keren, berliku-liku, berkelok-kelok, naik-turun, dan tambah lagi jalannya pada longsor separo (ngeriii).
Kita istirahat dulu di alun-alun Wonosobo (istirahatin pantat n pinggang, capek cint!). Nongkrong ya kira-kira 15 menitlah. Trus lanjut ke Dieng deh. Tapi berhubung motor si Rayfan mau abis bensinnya, ya udah kita mampir di SPBU dulu.
Setelah FULL TANK, lanjuuut.
Jalan naik dan berkelok mulai kerasa. Semilir angin mulai berhembus, dingin, dan indah pemandangan terlihat waktu naik. Tapi kok lama-lama jadi.....
DINGIIIIIN! Sumpah, kita sampai menggigil abis waktu perjalanan sampai ke Dieng. Si Septi ampe lihat termometer di tasku, 20°C!
Gerimis mulai menyapa kami, menambah dinginnya perjalanan. Dan yang bikin kami kaget adalah, ANGINNYA..KENCEEEEENG BUANGEEET.
Ampe kalo pas anginnya berhembus, naik motornya miring-miring kena terjangan angin. Tau gaya orang naik Vespa yang nangkringnya miring? Like that lah.
Anginnya mungkin 160km/jam kali yah? Whehehe..Cepet amiir..
Tanganku sudah kerasa bekuuuu banget. Susah buat ngeGas. Akhirnya si Septi minjemin aku kaos kakinya, eh salah, kaos tangannya maksudnya biar tanganku gak beku. Sedikit membantulah pokoknya (thanks atas kaos tangannya).
Setelah berjam-jam akhirnya kami sampai juga dan langsung mencari rumahnya Kepala Desa Karang Tengah.
Kami pun disambut dengan hangat (dengan ramah maksudnya, bukan dengan kompor). Kami pun ngobrol-ngobrol dulu tentang maksud kami ke sana dan alasan apa aja yang ingin kami sampaikan. Dan kebetulan di sana sedang ada juga Kepala Dusun lainnya dan Sekdes juga.
Tau gak? Waktu ngobrol sama Kades, anginnya di luar tuh masih kenceeeeeng buanget. Ampe seng-seng atap rumah pada bunyi (kabarnya ada yang ampe lepas n terbang, sayang aku gak liat terbangnya, pasti keren). Whehehe..
Karena sering kaget dengar suara itu, lalu Kadesnya bilang “gak apa-apa Mas, di sini sudah biasa. Apalagi pas imlek tuh selalu angin kencang). What? Atas dasar apa menganalogikan kalo angin kencang itu dengan Imlek? Apa gara-gara ini tahun Naga yah? Ada naga lewat gitu dan anginnya kencang?
Oke, misi pertamapun selesai dan dapat tanda tangan dari Kades. Selanjutnya ke kantor Kecamatan Batur. Pas tanya jalannya seperti ini.
Rayfan: Maaf Pak, mau tanya kalo jalan ke Kecamatan tuh mana yah?
Kades: Oh anda keluar dari sini aja ke jalan raya trus ikutin jalannya. Kira-kira 10 km.
WHAAT?!*biasa aja kale.
Tapi bayangin aja, dalam radius 10km adalah 1 Kecamatan. Yang ku tau, Kecamatan Muntilan, Magelang aja kayaknya gak nyampe 5 kilo deh.
Dan setelah liat wilayahnya aku ngerti. Bayangin aja tempat berbukit-bukit gitu dan peradaban (kota) terpisah-pisah, mana mungkin cuma dibagi dalam radius kecil.
Sebelum berangkat kami mampir di masjid dulu untuk sholat dhuhur karena jam sudah menunjuk ke pukul 12.30 WID (Waktu Indonesia Dieng).
Kami pun melanjutkan perjalanan dan berperang dengan angin lagi. Miring-miring naik motornya lagi. Dan ditambah dengan terpaksa pakai jas hujan (pepatah “sedia payung sebelum hujan” gak mempan di sini, bayangin aja. Kamu mau naik motor pakai payung? Whehehe).
Dan setengah jam lebih kami harus melewati badai (keris patih) ini, sampai ke kecamatan.
Pas udah sampai..Lhoh?! Kok tutup?
Kami pun ketuk2 pintu, tapi gak ada sahutan. Kemana yah??
Karena kami belum makan siang, akhirnya pergi ke depan kecamatan makan bakso urat (syaraf). Pas mau pesen, we’e’e..ternyata yang jual cantik. Hehehe..
Semangat deh untuk makan sambil nunggu kecamatannya ada orang.
Sambil nunggu bakso urat (nadi), gorengan-gorengan pun kami sikaaat..(bukan digosok). Eh, tiba-tiba aku kebelet mau pipis. Ya udah, aku minta tolong untuk numpang ke kamar mandi. Waktu masuk airnya di bak melimpah ruah. Waaaah..dan yang hebat adalah mereka memodifikasi atap kamar mandi (dibolong) supaya kalo ujan airnya langsung masuk ke bak mandi. Dan aku melihat saat hujan turun, langsung ke bak mandi. Yang pasti dingin airnya.
Abis ritual (pipis) ternyata pesanan bakso urat (saraf) udah siap dan MAKAAAN! Hmm..ternyata lumayan juga sih rasanya (rasa bakso cuy, * ya iyalah). Waktu asyik ngomong tiba-tiba ada anak SD pulang dari sekolah pakai jas ujan masuk ke warung. Ternyata anak ini, adalah anaknya yang punya warung. Anak ini heboh banget dan bilang ke ibunya seperti ini.
“Bu’, mau kan mulih sekolah, lha inyonge lewat nang pipo-pipo sing gumantung neng dalan ika’lah. Nah, pas angin ne buanter pipo ne nyampluk sirah e inyong. Lara’ bangetlah. Kanca ne inyong pada ngguyu kabehlah gara-gara kuwi.”
Intinya anak tadi cerita ke ibunya kalo dia pas pulang sekolah melewati pipa-pipa yang bergantungan di atas jalan dan pas ada angin gede kapalanya kena pipa itu.
Waktu mendengar kata-kata anak itu aku nahan ketawa, dan baru sadar bahwa Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara merupakan wilayah ‘penutur bahasa Ngapak’. Whehehehe. Karena cengkok dan kosa katanya agak beda si Rayfan ampe tanya ke aku.
“Nes, itu mereka ngomong masih pakai bahasa jawa enggak sih?”
“Masih kok.”
“Kok beda ya?”
“Ya emang beda.”
“Kamu ngerti tapi?”
“Ngerti.” Jawab aku sambil menahan ketawa. Whehehe. Lucu deh.
Setelah selesai makan trus bayar, kami langsung ke kecamatan lagi. Ini pertaruhan terakhir kami, karena cuma kurang tanda tangan dari Camat. Kalo hari ini Camatnya gak ada, yaaaaah.. Harus balik lagi di lain kesempatan. Haduh.
Tapi Tuhan berbaik hati, karena waktu kembali ke sana Camatnya ada. Dan kami pun ngobrol-ngbrol sama Camatnya dan setengah jam kemudian berhasil dapat tanda tangan beliau.
Ya pesan beliau pada kami yang mau KKN adalah “kamu niatnya baik bawa roti dari kota ke desa, tapi kalo ternyata penduduk desa gak doyan apakah harus dipaksa?”
Intinya? Pikir sendiri yah..Whehehe.. *aku juga gak mudeng (bercanda).
Jam pun menunjukkan pukul 15.25, saatnya pulang ke peradaban bawah (kota yang hangat=Jogja). Dan kembali harus miring-miring naik motornya karena anginnya gak berhenti nerjang-nerjang. Haduuuh.. Sampai palang-palang iklan pada ikut bengkok gara-gara angin.
Waktu turun aku memikirkan sesuatu. Di daerah Dieng seperti itu ada satu benda yang gak mungkin ada dan gak mungkin dijual di sana.
Yaitu KIPAS ANGIN/AC! Mana ada kipas di sana. Haha..
Perjalanan berjam-jam pun untuk pulang pun harus dinikmati (lagi). Karena mau lewat Purworejo lagi sudah gelap, akhirnya kami memutuskan untuk lewat Temanggung (agak jauh gak apa-apa yang penting jalannya aman).
Aku sampai rumah di Jogja udah jam setengah 9 dan selang 10 menit teman-temanku pada datang ke rumahku dan pada nginep! Hedeh, gak mungkin bisa tidur kalo banyak teman gini di rumah.
Sekian dulu ceritanya, ini punggungku masih sakit karena udah lama gak pergi jauuuuuh, trus tangan juga masih pegal. Butuh tukang pijit. Ada yang bersedia? Wkekekeke..
-SEKIAN-

Senin, 23 Januari 2012

Kenangan Nonton Barongsai di Muntilan

 *gambar di atas tadinya emang modelnya aku. Entah kenapa pas dibikin kartun AKU JADI MONYET?? Lumayanlah, Kera Sakti..

Sebelum mau ngoceh2 aku ucapkan Selamat Imlek buat yang merayakan. Semoga taun ini benar-benar sang Naga membasmi para Tikus (koruptor) dengan apinya. Wahahahahaha*ketawa kejam.
Hmm..mungkin Imlek buatku menjadi sesuatu yang baru waktu itu. Saat masih SD. Ya kalian tau sendiri bahwa etnis tionghoa dilarang melakukan ritual agamanya sejak lama dan diperbolehkan lagi saat Bapak Gus Dur menjadi presiden (yeah! multikultur).
Karena itu sesuatu yang baru maka aku jadi terkagum-kagum dengan perayaan itu, mulai dari kembang api, ada barongsai, kue (ke)ranjang *ups, kelenteng jadi ramai. Nah, barongsai adalah salah satu yang memikat hatiku *maklum, sebelumnya anak kampung paling mentok hiburannya liat ayam kawin.
Pernah suatu ketika kabar akan ada parade barongsai di jalan pemuda,Muntilan aku pun jadi penasaran. Karena kalo nonton sendiri itu bosan maka aku ajak teman kampungku. Eh, ternyata dia juga diajak adiknya yang masih kecil untuk lihat. Yo es, aku, dia, dan adiknya berangkat bersama (di bawah terik matahari *uuh).

Di jalan, adik temnku tanya-tanya mulu masalah barongsai. Dia makin lama penasaran karena jawabanku dan temanku. Matanya berbinar-binar waktu udah mau sampai karena ngeliat paradenya ruaaaamey buangeet (ampe mau pipis tuh anak gara-gara seneng, enggak ding.whehehe).
Nah,waktu udah sampai, arak-arakan sedang berlangsung..depan sendiri ada pesilat wushu (bener nulisnya gak?), trus ada yang bawa genderang, bawa bendera, ramai deh. Trus yang gak kalah seru ada barongsai, yang naga ama singa.
Karena adik temen aku penasaran,dia minta gendong (maklum, tinggi cuma 100 cm). Ya udah dengan suka rela (terpaksa) temenku gendong dia di bahunya biar bisa lihat barongsai.
Begitu anak ini naik and lihat barongsai, dia teriak.
TIDAAAAAAAAAK! SEREEEEEEM! HUUUUUUUUU....
dan anak ini berhasil teriak, nangis, sambil pipis di celana dan otomatis kepala temenku dengan seksinya tersiram pipis. Adiknya merengek minta pulang dan dengan malu serta dongkol aku pun ikut pulang.
Gagal nonton baronsai di tahun pertama pertunjukkan itu diperbolehkan.
Nasiiiiib.
*catatan:jangan pernah mengajak anak kecil yang rasa penasarannya tinggi, ntar begitu liat barongsai dia akan takut. Saran aja sih..Atau mungkin anak ini yang kampungan? Hanya Barongsai dan anak itu yang
tau.
Selamat IMLEK..angpaonya dooonk! GAk usah pakai amplop jg gpp..
-SEKIAN-

Sabtu, 21 Januari 2012

Cerita Dosen:Berakhirnya Perdebatan Tentang Kapak Batu



Suatu hari waktu di laboratorium jurusanku, Arkeologi (lhoh? Emang arkeologi butuh lab? Haha.. Sorry sob, arkeologi itu ilmu disiplin ilmunya tinggi. Jangankan lab, alat selam, dan berbagai alat pengukur morfologi tanah dan batu aja butuh. Ya bersyukur sekarang alatnya udah lengkap sih di jurusan).
Dosenku sedang memperdebatkan seekor batu yang ada di meja lab. Beliau berdebat dengan seorang mahasiswanya yang emang sedang pengen tanya tentang ‘bedain kapak batu yang masih berupa bahan sama yang udah jadi’.
“Coba, kamu analisa batu ini apakah ini itu batu yang masih bahan kapak atau ini sudah kapak?” kata Dosenku itu.
“Hmm..menurut saya ini masih bahan Bu.”
“Lhoh kok bisa? Apa dasarnya?”
“Ya karena belum diapa-apain aja ini batunya.”
“Kamu ini gimana, ini jelas-jelas sudah banyak pemangkasan dan penajaman. Ini itu sudah kapak,” kata Dosenku mantap karena (mungkin) beliau termasuk yang ahli di bidang Prasejarah Indonesia.
“Tapi saya lihat itu bukan pemangkasan oleh manusia Bu.”
Perdebatan pun terus dilakukan. Saling bantah, saling cela, dan saling adu otot (yang terakhir ini cuma fiktif). Sampai-sampai suara mereka kedengeran dari luar.
Tiba-tiba dosenku yang lain datang. Dia ahlinya di bidang Geoarkeologi, ya semacam ilmu geografi tapi terapan untuk arkeologi gitu. Dia mendengarkan perdebatan itu dan merebut batu tadi dari tangan mahasiswa  dan berkata pada dosen prasejarah tadi.
“Ini itu yang pasti bahan Bu,” kata dosen geoarkeo tadi.
“Lhoh, kamu kok ikut-ikutan bilang itu bahan?”
“Ya bagaimanapun ini bahan.”
“Dasarnya apa?”
“Ini itu bahan.”
“Iya, tau. Bahan yang gimana maksudmu?”
“Ini itu BAHAN PERDEBATAN.”

WAHAHAHAHHAHAHAHAHA
Dunia terasa berhenti berputar dan semua tertawa sampai (entah) mungkin malaikat dan setan ikut.
Catatan: Dosen Geoarkeo itu emang tipe manusia yang suka humor dan tambahan bahwa dia sering menentang kuasa Tuhan. Karena pernah waktu hujan ama angin dia malah keluar dan tepuk tangan seperti ngeliat pertunjukkan di langit kampus, dia berkata “ayo, anginnya kalo berani yang lebih kenceng!”.
Dan langsung dijawab ama Tuhan, anginnya tambah kencengng ampe ranting pohon pada berjatuhan. Salah satu ranting yang sebesar tiang bendera jatuh menimpa mobil beliau.
Ingat, balasan dari Tuhan itu cepat! Ngalahin kecepatan paket JNE atau yang lain deh.
-SEKIAN-

Curhatku:Pontang-Panting ‘hunting’ Buku Manusia Setengah Salmon



Ya hari ini aku mau cerita hal yang berkenaan dengan hal di atas (genteng? Bukan maksudnya judul).
Pagi itu aku udah niat mau servis motor trus abis itu cabut ke Gramedia Jalan Sudirman untuk beli bukunya si Raditya Dika yang akhir Desember kemarin keluar dengan judul Manusia Setengah Salmon. Sebenarnya aku sudah lama dengan buku-buku beliau (sorry Bang, aku panggil beliau biar kelihatan senior banget). Mungkin karena katanya lucu, idenya kreatif, dan ceritanya jujur (walaupun ditambah bumbu humor, dicampur irisan lebay, an dimasak dengan tulisan yang gaul) jadi aku tertarik.
Nah, kembali ke kegiatan sebelumnya, servis motor. Jupe biruku tersayang yang sering aku tunggangin tiap hari (sering aku bisa sebut dengan “aku bisa tiap hari naik Jupe atau peluk si Jupe kapanpun”) lagi rewel karena dia gak pernah bilang “udah kenyang” kalo aku isiin bensin (baca:indikator bensinnya rusak). Aku mikir kalo nih Jupe aku bawa ke bengkel biasa, pasti suku cadangnya udah gak ada (maklum, motor 2005), jadi aku bawa aja ke Yamaha Mlati. Jam setengah 9 aku langsung ke sana dan langsung mengeluh ke meja penerimaan tamu. Adegannya kayak di ruang dokter.
A:Aku
M:Mbak-mbak manis penjaga meja tamu/suster cantik
Percakapan:
M:Mari, Mas ada yang saya bantu?
A:Iya Mbak, gini si Jupe itu lagi sakit.
M:Gejalanya?
A:Gejalanya cuma dia itu selalu gak mau ngaku dia sudah lapar atau belum dan juga kalau sudah saya kasih makan (isi bensin) dia juga gak bilang “sudah kenyang”.
M:Oh, mungkin itu syaraf perutnya (indikator bensin) rusak, Mas.
A:Oh gitu. Kira-kira kalo operasi (ganti suku cadang) berapa Mbak?
M:Mhmm..70 ribu Mas. (Huft, paling gak masih bisa ngirit n ada uang sisa lebih buat beli bukunya si Radit)
A:Oke deh. Si Jupe langsung dioperasi juga gak apa-apa.
Aku pun harus sabar dan rela karena Jupeku akan dijamah-jamah sama dokter lain (baca:mekanik). Aku nunggu lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa buanget. Sampai ngantuk aku. Tapi tiba-tiba mekaniknya nyamperin aku dan ngajak ngeliat kondisi Jupe.
Jupe sedang tertidur nyaman karena obat bius mekanik. Dan mekanik pun menunjukkan organ dalam Jupe.
“Mas, banyak yang harus dioperasi ternyata.” Mekanik menunjukkan beberapa yang rusak. Rem depan udah abis, rem blakang juga, saringan udara juga udah gak layak...
Aaaargh! Tidak! Kalau gak aku ganti bisa celaka di jalan, tapi kalo diganti duitku ngepas banget.
Setelah mikir-mikir akhirnya aku terpaksa ganti semua kerusakan dan hanya beberapa lembar uang yang tersisa di dompet (minimal bisa dapet Manusia Setengah Salmon). Dan melanjutkan kesabaranku menunggu.
Setengah jam kemudian Jupe jalan keluar dari ruang operasi (ruang servis). Sebelum aku pakai, Jupe dimandiin dulu ama orang-orang di Yamaha (enak juga dapat cuci gratis). Ya rela gak rela sih kalau si Jupe dimandiin orang, mau gimana lagi aku udah capek mandiin Jupe. Bosen cuy! Sambil nunggu kelar aku pun bayar semua biayanya yang membengkak (persis membengkaknya kaki kalo abis nendang pintu kost) sampai 240k! Nasib *elus-elus dada.
Jam udah nunjukkin pukul 1 siang dan karena takut kehujanan, aku pun langsung minta antar Jupe ke Gramedia Sudirman. Ngomong-ngomong kalo sekarang namanya Gramedia Sudirman, mungkin dulu namanya waktu masih baru Gramedia Sudirboy dong? *lhoh? Garuk2 kepala.
Ok, kembali ke benang merah. Waktu cepat-cepat mau sampai di Gramedia, aku lihat indikator aku menunjuk ke arah EMPTY *mulai panik. Aku ingat-ingat di dompet cuma ada uang buat beli buku. TIDAAAAAK. Tapi tekadku harus dapet buku si Radit hari ini. Aku nekat!
Jreeeeng.. Sampai di Gramedia. Aku langsung parkir didahului dengan minta karcis dan tukang parkirnya selalu bilang “jangan dikunci stang ya Mas”. *Iya-iya ngerti.
Pas mau masuk ada poster-poster buku yang terbit. Salah satunya poster buku-bukunya si Radith termasuk buku baru dia yang aku buru (emang babi hutan aku buru? Adanya sih Babi Ngesot buku dia). Dengan menggebu-gebu aku langsung nyari satu per satu buku dia di rak “novel” dan “cerita “remaja”. Udah setengah jam nyari tapi gak ketemu juga. Pas lagi lihat “Buku Laris” salah satunya di sana ada buku Marmut Merah Jambu-nya si Radith. Nah, ketemu juga (salah satu) buku dia. Tapi yang aku cari bukan yang itu. Ya sama-sama menarik sih sebenarnya, tapi berhubung Marmut Merah Jambu itu bercerita (katanya) tentang kisah-kisah si Radit waktu merasakan cinta aku jadi takut ikut galau.
Next, perburuan dilanjutkan. Aku menuju ke komputer pencari buku yang emang biasa disediakan di sana. Aku ketik aja “r.a.d.i.t....” baru ngetik segitu udah pada keluar gambar-gambar bukunya. Aku lihat cuma ada 3 buku dia yang gak kosong, yang Cinta Brontosaurus abis, Babi Ngesot juga abis, yang masih ada tuh Marmut Merah Jambu ada 30 buku, Kambing Jantan 20 buku, dan Manusia Setengah Salmon 15 buku. YESSS!! Berarti masih sisa yang Manusia Setengah Salmon.
Aku semangat puter-puter lagi seGramedia. Tapi udah satu jam tetap gak ketemu. Akhirnya aku tanya yang jaga.
“Mas, bukunya Raditya masih ada tidak?”
“Ada, itu Marmut Merah Jambu,” katanya sambil nunjuk ke tumpukan BUKU LARIS tadi.
“Bukan itu yang saya cari (saya takut ikut galau), tapi yang Manusia Setengah Salmon.”
“Wah, itu udah abis Mas.”
“Tapi tadi (kata) komputer ada stok 15 ekor.”
“Maaf Mas, itu pesanan semua. Kemarin datang 2 kardus tapi langsung abis dalam sehari (hebat).” *tepuk jidat dan bergumam 'kalo pesenan kenapa ditulis!'.
Akhirnya aku gak punya daya apa-apa. “Gak mungkin aku udah capek-capek ke sini dengan hal yang sia-sia”. AHA! Toh aku masih penasaran juga sama buku KAMBINJANTANnya si Radit. Jadi aku cek lagi di komputer. MASIH ADA!
Aku cek lagi di bagian novel. Tapi tetep aja gak ada!
Aku mulai merenung..merenung..dan merenung.
Dan sadar! Ya ampun! Jangan-jangan buku Kambing Jantan emang ada di rak dengan judul “TERNAK” seperti cerita si Radit waktu standup di youtube. Aku pun berlari ke tumpukkan rak TERNAK, dan mencari. Tetep gak ada!
Lagi-lagi aku harus samperin yang jaga tadi dan tanya Kambing Jantan itu ada dimana. Akhirnya dia ngajak aku ke rak NOVEL. Fiuh, ku kira beneran di rak TERNAK.
“Ini Mas bukunya,” kata dia menujuk ke tumpukkan buku di lantai. Pantesan tadi gak ada, lha wong di lantai gitu numpuknya. (Buat Radit, mungkin cerita bukumu digeletakin di lantai sudah dua kali ini terjadi, dan maaf aku gak sempet kerokin buku kamu itu, pasti masih pada masuk angin sekarang)
Akhirnya aku ambil satu buku Kambing Jantan dan jalan ke kasir untuk bayar. Waktu mau bayar yang jaga tadi bilang “gak sekalian Marmut Merah Jambunya Mas? Daripada gak ada yang Manusia Setengah Salmon.”
Aku mikir-mikir sebentar, trus akhirnya aku ambil sekalian Marmut’nya Radit (bukunya).
Pas bayar aku iseng-iseng tanya ke kasir.
“Hmm, Mbak bukunya Radit yang Manusia Setengah Salmon itu pesenan semua ya?”
“Iya. Tapi kalo Bapak (ini gak salah tulis dan baca karena aku dateng dengan kumis dan jenggot yang belum aku cukur) mau, di Gramedia Ambarukmo Plasa masih ada 20 di sana Pak,” kata Mbaknya sambil menyerahkan buku yang aku bayar.
YAAAAAAAH! Telat MBAK! Duit didompet cuma tinggal 2000. 1000 buat bayar parkir yang 1000 buat beri gorengan untuk makan siang! Mana motor gak ada bensin lagi.
Paling gak aku udah dapat bukunya si Radit langsung dua. Kambing Jantan (katanya sih lucu aku baru mulai baca) dan Marmut Merah Jambu (katanya sih bikin galau *buat pembaca blog ini kalo aku 2 minggu ke depan nggak update berarti aki ikut-ikutan galau setelah baca Marmutnya si Radit.
Oke Radit! Aku akan nabung dulu dan akan memburu Salmon-mu itu lagi. Doakan si Jupe gak sakit, biar uangku gak habis lagi.
Bye..aku mau baca buku yang ku peroleh dengan perjuangan kemarin.
-SEKIAN-

Kamis, 19 Januari 2012

Tragedi Makan Soto Babat



Kamu semua pasti pernah ngerasain yang namanya makanan soto. Entah soto ayam, soto sapi, atau sotoshop (yang buat edit gambar). Gimana rasanya? Enak? Ya, semua soto kalau beli di warung makan atau restoran rata-rata enak. Tapi sayangnya aku punya pengalaman  makan soto gak enak banget.
Suatu hari aku bangun kesiangan dan perut terasa melilit karena lapar belum sarapan. Ya bahasa gaulnya perutku keroncongan (andai aja perutku bisa dangdutan pasti lebih goyang). Nah, terpaksa aku cepet-cepet cari makan keluar karena maklum aku waktu itu masih ngekost. Waktu cari-cari warung eh nemu warung soto yang baru buka dan aku belum pernah nyobain makan di sana. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke warung dan pesan.
“Mbak sotonya 1 ya! Kalau bisa cepatya, saya sudah lapar banget,” kataku sambil melihat jam yang menunjuk ke jam 11.00.
“Iya, siap Mas. Mau soto apa?”
“Hmm...soto babat saja.”
“Sepertinya belum ada tuh Mas, babatnya.”
“Kok sepertinya? Ya dicek dululah.”
“Iya deh. Minumnya?”
“Es teh anget aja.”
Mendengar kata-kata terakhirku, orang tadi pergi ninggalin aku sambil garuk-garuk kepala dan mikir “ni orang gila kali. Mana ada es teh anget?”
Sudah hampir 20 menit aku nungguin gak dateng-dateng tuh pesenan. Aku pun segera menghampiri mbaknya tadi dan tanya, kenapa soto babatku belum jadi.
Akhirnya pesenan jadi dan diantar ke mejaku. Tanpa pikir panjang aku langsug aja makan tuh soto.
Tapi rasanya tuh soto aneh banget. Sotonya paiiiiiit buanget! Mana alot lagi. Gak bisa dimakan pokoknya. Aku teliti potongan-potongan babatnya, ada yang aneh juga. Di salah satu dagingnya ada label tulisan “made in china”. Aku jadi ragu untuk nerusin makanku.
Aku pun protes ke yang jual.
“Mbak! Kok soto babatnya aneh rasanya?” kataku emosi (sambil keluar tanduk).
“Aneh gimana Mas?”
“Nih, masak babatnya alot dan pait gini?” kataku sambil memperlihatkan potongan-potongan babat.
“Maaf Mas, karena tadi Masnya minta babat dan bersikeras untuk tetep makan babat jadi kami turutin.”
“Trus?”
“Ya karena babatnya abis kami memutuskan untuk mengganti babat Mas dengan...”
“Dengan apa?” kataku penasaran.
“Dengan HANDUK di kamar mandi Mas.”
“TIDAAAAAAAAAK!” Teriak sambil muntah-muntah gara-gara makan kenyataan dan makan handuk.
Pait!
-SEKIAN-